Tampilkan postingan dengan label Fitokimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fitokimia. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2012

PRAKTIKUM FRAKSINASI

TUJUAN PRAKTIKUM:
Memisahkan golongan-golongan senyawa pada tumbuhan hingga diperoleh zat murni menggunakan metode fraksinasi corong pisah dan kromatografi kolom
TINJAUAN PUSTAKA
Fraksinasi
Fraksinasi merupakan suatu prosedur yang digunakan untuk memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari kandungan golongan utama yang lainnya. Fraksinasi merupakan prosedur pemisahan komponen-komponen berdasarkan perbedaan kepolaran tergantung dari jenis senyawa yang terkandung dalam tumbuhan.
Dalam metode fraksinasi pengetahuan mengenai sifat senyawa yang terdapat dalam ekstrak akan sangat mempengaruhi proses fraksinasi. Oleh karena itu, jika digunakan air sebagai pengekstraksi maka senyawa yang terekstraksi akan bersifat polar, termasuk senyawa yang bermuatan listrik. Jika digunakan pelarut non polar misalnya heksan, maka senyawa yang terekstraksi bersifat non polar dalam ekstrak. Pada prakteknya dalam melakukan fraksinasi digunakan dua metode yaitu dengan menggunakan corong pisah dan kromatografi kolom.
Corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan densitas yang berbeda yang tak tercampur.
Umunya salah satu fase berupa larutan air dan yang lainnya berupa organiklipofilik seperti eter, MTBE, diklorometana, kloroforom, ataupun etilasetat. Kebanyakan pelarut organik berada di atas fase air kecuali pelarut yang memiliki atom dari unsur halogen. Pemisahan ini didasarkan pada tiap bobot dari fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada pada bagian dasar sementara fraksi yang lebih ringan akan berada di atas. Tujuannya untuk memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari kandungan yang lain. Senyawa yang bersifat polar akan masuk ke pelarut polar dan senyawa non polar akan masuk ke pelarut non polar.
Corong pemisah berbentuk kerucut yang ditutupi setengah bola, mempunyai penyumbat di atasnya dan di bawahnya. Corong pemisah yang digunakan dalam laboratorium terbuat dari kaca borosilikat dan kerannya terbuat dari kaca ataupun teflon. Ukuran corong pemisah bervariasi antara 50 ml sampai 3 L. Dalam skala industri, corong pemisah bisa berukuran sangat besar dan dipasang sentrifuge.
Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan kedalam corong dari atas dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk membuat dua fase larutan tercampur. Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk melepaskan tekanan uap yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan ini dipisahkan dengan mengontrol keran corong.
Kromatografi Kolom
Terjadinya proses pemisahan dapat dengan cara :
1. Adsorpsi - Adsorpsi komponen atau senyawa diantara permukaan padatan dengan cairan (solid liquid interface) - Agar terjadi pemisahan dengan baik, maka komponen-komponen tersebut harus mempunyai afinitas yang berbeda terhadap adsorben dan ada interaksi antara komponen dengan adsorben
2. Partisi - Fase diam dan fase gerak berupa cairan yang tidak saling bercampur - Senyawa yang akan dipisahkan akan berpartisi antara fase diam dan fase gerak. Karena fase diam memberikan daerah yang sangat luas bagi fase gerak, maka pemisahan berlangsung lebih baik.
Penyiapan kolom
Pemilihan ukuran kolom a. Tergantung jumlah sampel yang akan dipisahkan, perbandingan adsorben-cuplikan (30:1) b. Perbandingan panjang dengan diameter kolom (10-15:1) c. Untuk sampel yang multikomponen yang mempunyai afinitas yang sama terhadap adsorben maka dipilih kolom yang panjang, sedangkan untuk komponendengan afinitas yang berbeda terhadap adsorben maka dipilih kolom yang pendek.
Cara melakukan adsorben ke dalam kolom: 1. Metode kering 2. Metode basah 3. Metode bubur/lumpuran
Penggunaan kolom
1. Sebelum dilakukan elusi, kolom dibasahi dulu dengan sejumlah fase gerak yang akan digunakan.
2. Sampel dimasukkan ke dalam kolom dalam bentuk padat maupun cair Sampel bentuk padat : • Dicampur dengan adsorben sampai merata, kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke dalam kolom yang sudah berisi adsorben • Pada kromatografipartisi, sampel dilarutkan dalam fase diam, kemudian dicampur dengan bahan penyangga, baru ditempatkan di atas adsorben Sampel bentuk cair : Dilarutkan/dicampur dengan fase gerak, kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke dalam kolom yang sudah berisi adsorben.
3. Setelah sampel masuk kolom, biasanya dilakukan pencucian terlebih dahulu baru dielusi dengan fase gerak. Untuk mendapatkan hasil elusi yang baik, umunya kecepatan fase gerak diatur 1-5 ml/menit.
4. Setelah elusi selesai, kromatogram dapat dideteksi dengan : - Berdasarkan warna sampel, bila yang dielusi berwarna - Dengan sinar UV 366nm - Disemprot dengan larutan/reagen penampak bercak
ALAT DAN BAHAN
A. Alat:
1. Corong pisah
2. Kolom kromatografi 3. Gelas ukur
4. Beaker glass
5. Erlenmeyer
6. Batang pengaduk
7. Kapas
8. Pipet 9. Botol vial
B. Bahan: 1. Ekstrak Temu Giring (Curcuma heyneana val.)
2. Metanol
3. Pelarut n-heksan
4. Pelarut etil asetat
5. NH4OH
6. Eluen (n-heksan:etil asetat = 1:1)
7. Adsorben silika gel GF 60
8. H2SO4
9. CHCl3
Prosedur Kerja :
A. Corong pisah
1. Cara kerja seperti pada bagan : 2. Semua proses dilakukan dalam corong pisah
3. Setelah didapat beberapa fraksi, fraksi-fraksi tersebut disimpan dalam botol vial
4. Simpan di lemari es.
B. Kromatografi Kolom
1.Siapkan kolom kromatografi, lalu bagian bawah kolom dimampatkan dengan kapas secukupnya
2.Masukkan adsorben ke dalam kolom dengan cara kering yaitu dengan memasukkan silika gel GF 60 sedikit demi sedikit ke dalam kolom sampai padat
3.Masukkan pelarut/eluen n-heksan:etil asetat (1:1) sebanyak 9 ml ke dalam kolom perlahan-lahan jangan sampai terbentuk rongga
4.Kemudian masukkan ekstrak ke dalam kolom, akan terjadi elusi hingga senyawa terpisahkan dan terbentuk pita-pita senyawa yang berwarna
5.Pita senyawa dikeluarkan dari kolom kemudian tampung ke dalam vial masing-masing sebanyak 3 ml
6.Simpan di lemari es.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan tabel 4.1.2 terlihat bahwa Fraksi I didapat cairan keruh berwarna kuning kehijauan dengan volume 10 mL. Fraksi II didapat cairan bening berwarna merah darah dengan volume 20 mL. Fraksi III didapat cairan bening berwarna kuning kehijauan dengan volume 15 mL.
Berdasarkan tabel 4.1.3 terlihat bahwa Fraksi I didapat Cairan berwarna merah darah atau merah tua, Fraksi II didapat Cairan berwarna merah agak orange, Fraksi III didapat cairan berwarna orange, Fraksi IV didapat cairan berwarna kuning tua, Fraksi V, VI, VII didapat cairan berwarna kuning muda, dengan jumlah volume masing-masing fraksi sebanyak 3 ml.
Berdasarkan tabel 4.1.2 terlihat bahwa Fraksi I didapat cairan keruh berwarna kuning kehijauan dengan volume 10 mL. Fraksi II didapat cairan bening berwarna merah darah dengan volume 20 mL. Fraksi III didapat cairan bening berwarna kuning kehijauan dengan volume 15 mL. Fraksi I didapat dengan cara menambahkan ekstrak yang terdapat di corong pisah dengan penambahkan 5 mL H2SO4, 5 mL n-heksan, dan 5 mL Etil Asetat. Fraksi I didapat setelah dilakukan pengocokan selama 15 menit kemudian corong pisah didiamkan sehingg terdapat dua lapisan. Lapisan atas merupakan lapisan n-heksan yang berwarna kuning susu kehijauan bersifat non polar karena n-heksan tersebut akan melarutkan atau menarik zat-zat yang bersifat non polar. Sesuai literature metode penapisan fitokimia bahwa fraksi hasil ekstrak adalah senyawa terpenoid dan fenol. Fraksi II diperoleh dengan mengekstraksi lapisan asam atau lapisan bagian bawah dari hasil ekstraksi pertama yang berwarna kuning jernih dengan cara menambahkan NH4OH hingga diperoleh pH 10, tambahkan n-heksan dan methanol (3:1). Fraksi II didapat setelah dilakukan pengocokan selama 15 menit. Setelah itu akan terbentuk dua lapisan. Lapisan bawah merupakan lapisan air-asam yang berwarna merah darah. Dalam literatur penapisan fitokimia, ekstrak tersebut adalah ekstrak yang bersifat polar yaitu alkaloid kuartener dan n-oksida. Fraksi III diperoleh dari lapisan yang berada di atas yang merupakan lapisan n-heksan – methanol berwarna kuning kehijauan bening. Dalam literatur penapiasan fitokimia, ekstrak tersebut adalah ekstrak basa yang bersifat semi polar yang kebanyakan adalah alkaloid.
Berdasarkan table 4.1.3 terlihat bahwa Fraksi I didapat Cairan berwarna merah darah atau merah tua, Fraksi II didapat Cairan berwarna merah agak orange, Fraksi III didapat cairan berwarna orange, Fraksi IV didapat cairan berwarna kuning tua, Fraksi V, VI, VII didapat cairan berwarna kuning muda, dengan jumlah volume masing-masing fraksi sebanyak 3 ml. Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa Fraksi I merupakan fraksi yang memiliki daya kelarutan yang tinggi terhadap fase gerak dan kurang terserap atau terabsorbsi pada fase diam sehingga fraksi tersebut lebih cepat bergerak keluar melalui kolom. Dan sebaliknya untuk Fraksi VII merupakan fraksi yang kurang larut dalam fase gerak dan lebih kuat terserap atau terabsorbsi pada fase diam sehingga fraksi tersebut lebih lambat bergerak keluar melalui kolom.
Fraksi-fraksi tersebut didapat dengan metode pemisahan menggunakan kromatografi kolom secara basah yaitu dengan cara cairan fase gerak dimasukkan terlebih dahulu ke dalam kolom kemudian ditambahkan fase diam berupa zat padat. Setelah itu masukan ekstrak temugiring yang ingin dipisahkan dan diamkan sampai terbentuk fraksi atau pita-pita dalam kolom tersebut. Pada praktikum kali ini kami menggunakan cara basah agar meminimalkan resiko terjadinya keretakan fase diam akibat kekeringan atau kurang ratanya penyerapan fase gerak bila dibandingkan cara kering maupun bubuh atau lumpuran. Pada saat menuangkan fase diam ke dalam corong usahakan agar serbuk tersebut tidak menempel pada dinding kolom dan tidak terbentuk rongga udara yang mengakibatkan pemisahan berjalan tidak sempuna.
Disusun Oleh :
KELOMPOK 5 (LIMA)
KONVERSI 2012 - XA
G.A.P MARLIANA NIM 1204017021
PUTRI MUTIARA LESTARI NIM 1204017041
SELVI DWI CAHYANINGSIH NIM 1204017044
TUTI SURAHMAN NIM 1204017051
YULIANI PRATIWI NIM 1204017056
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
2012

Kamis, 13 Desember 2012

Laporan Praktikum Fitokimia - Isolasi simplisia dan Uji identifikasi senyawa simplisia

Judul Praktikum : Isolasi simplisia dan Uji identifikasi senyawa simplisia
Tujuan : Mengetahui kandungan senyawa aktif dalam simplisia rimpang temu giring melalui proses isolasi
A. Tinjauan Pustaka
2.1 Isolasi
Pada dasarnya isolasi senyawa kimia dari bahan alam adalah sebuah usaha bagaimana caranya memisahkan senyawa yang bercampur sehingga kita dapat menghasilkan senyawa tunggal yang murni. Tumbuhan mengandung ribuan senyawa yang dikategorikan sebagai metabolit primer dan metabolit sekunder. Biasanya proses isolasi senyawa dari bahan alami ini mentargetkan untuk mengisolasi senyawa metabolit sekunder, karena senyawa metabolit sekunder diyakini dan telah diteliti dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Antara lain manfaatnya dalam bidang pertanian, kesehatan dan pangan.
Teknik-teknik Isolasi : Untuk mengisolasi suatu senyawa kimia dari bahan alam hayati pada dasarnya menggunakan metode yang sangat bervariasi, seperti yang diaplikasikan dalam proses industri. Senyawa bahan alam hasil proses metabolit sekunder pada umumnya dengan kandungan yang relatif kecil, maka metode-metode dalam proses industri tersebut tidak dapat digunakan. Berdasarkan hal tersebut maka metode umum dalam isolasi senyawa metabolit sekunder dapat digunakan. Metode standar laboratorium dengan kuantitas sampel terbatas dan perlunya menentukan metode yang paling sesuai dengan maksud tersebut.
Dari identifikasi awal, maka dapat diamati kandungan senyawa dari tumbuhan sehingga untuk isolasi dapat diarahkan pada suatu senyawa yang lebih dominan dan salah satu usaha mengefektifkan isolasi senyawa tertentu maka dapat dimanfaatkan pemilihan pelarut organik yang akan digunakan pada isolasi tersebut, dimana pelarut polar akan lebih mudah melarutkan senyawa polar dan sebaliknya senyawa non polar lebih mudah larut dalam pelarut non polar.
2.2 Uraian Tumbuhan
Temu giring banyak ditemukan tumbuh liar di hutan-hutan kecil atau peladangan dekat rumah penduduk, terutama di kawasan Jawa Timur. Kini, temu giring sudah banyak diusahakan oleh masyarakat sebagai tanaman apotik hidup, terutama di pulau Jawa. Penduduk Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat sudah mengusahakannya sebagai bahan jamu atau obat tradisional yang relatif menguntungkan.
2.2.1 Sistematika Tumbuhan
Sistematika tumbuhan temu giring adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Jenis : Curcuma heyneana Val et van Zijp.
2.2.2 Nama Daerah
Jawa : Temu giring
Bali : Temu poh
2.2.3 Nama Asing
Inggris : Pale tumeric
2.2.4 Morfologi Tumbuhan
Temu giring merupakan suatu tumbuhan tahunan. Tumbuhan temu giring memiliki ketinggian mencapai 2 meter.
Batang temu giring berwarna hijau pucat dan tumbuh tegak yang tersusun atas banyak pelepah daun. Daunnya berbentuk lanset yang melebar. Helaian daunnya tipis, uratnya kelihatan dan berwarna hijau muda. Bunga temu giring muncul dari bagian samping batang semu. Pinggiran mahkota bunga berwarna merah. Bunga ini memiliki daun-daun pelindung yang berujung lancip. Musim bunga berlangsung dari bulan Agustus sampai bulan Mei tahun berikutnya, namun paling banyak dijumpai pada bulan September sampai Desember.
Rimpang temu giring tumbuh menyebar di sebelah kiri dan kanan batang secara memanjang sehingga terlihat kurus atau membengkok ke bawah. Secara kesuluruhan, rimpang temu giring umumnya tumbuh mengarah ke bawah dengan percabangan berbentuk persegi. Apabila rimpang dibelah, akan terlihat daging rimpang berwarna kuning, berbau khas temu giring. Rimpang bagian samping umumnya memiliki rasa lebih pahit. Tanaman ini tumbuh pada daerah hingga ketinggian 750 m di atas permukaan laut. Temu giring dijumpai sebagai tanaman liar di hutan jati atau di halaman rumah, terutama di tempat yang teduh. Perbanyakan dilakukan dengan stek rimpang induk atau rimpang cabang yang bertunas.
2.2.5 Kandungan Kimia
Kandungan kimia rimpang temu giring antara lain minyak atsiri dengan komponen tanin dan kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksi-kurkumin dan bis-desmetoksi-kurkumin, pati, saponin, dan flavonoid.
2.2.6 Khasiat
Secara tradisional rimpang temu giring mempunyai beberapa khasiat antara lain sebagai obat luka, obat cacing, obat sakit perut, obat pelangsing, memperbaiki warna kulit, obat untuk mengatasi perasaan tidak tenang atau cemas, jantung berdebar-debar, haid tidak teratur, obat rematik, menambah nafsu makan, meningkatkan stamina, menghaluskan kulit, obat jerawat, obat cacar air dan obat batuk. Temu giring mengandung senyawa khas kurkumin yang dapat meningkatkan proliferasi sel T, sehingga kurkumin mempunyai prospek cukup baik untuk meningkatkan sistem imun.
Uraian Kimia
1. Alkaloida Alkaloida merupakan senyawa organik yang bersifat basa, memiliki atom nitrogen dan pada umumnya memiliki aktivitas fisiologi. Pada dunia tumbuh-tumbuhan, alkaloida terdapat pada berbagai famili dan bangsa. Alkaloida ditemukan pada berbagai bagian dari tumbuhan seperti pada biji, buah, daun, batang dan akar. Pereaksi yang umum untuk uji alkaloida adalah pereaksi Bouchardat (Iodium dalam kalium iodida), pereaksi Mayer (Kalium Merkuri Iodida), dan Dragendorff (Kalium Bismuth Iodida). Kebanyakan alkaloida berupa zat padat yang berbentuk kristal. Alkaloida biasanya tidak berwarna dan mempunyai rasa pahit, sangat sukar larut dalam air, tetapi garamnya yang terbentuk dengan asam selalu mudah larut dalam air, Alkaloida bebas mudah larut dalam eter, kloroform dan pelarut lainnya yang bersifat non polar.
2. Saponin Saponin merupakan senyawa dalam bentuk glikosida yang tersebar luas pada tumbuhan tingkat tinggi. Saponin membentuk larutan koloidal dalam air dan membentuk busa yang mantap jika dikocok dan tidak hilang dengan penambahan asam.
3. Flavonoida Flavonoida merupakan senyawa polifenol yang mempunyai struktur dasar C6-C3-C6. Golongan terbesar flavonoida mempunyai cincin piral yang menghubungkan rantai karbonnya. Senyawa flavonoida selalu terdapat pada tumbuhan dalam bentuk glikosida dimana satu atau lebih gugus hidroksi fenol berikatan dengan gula. Gugus hidroksil selalu terdapat pada atom C 5 dan 7 pada cincin A dan juga pada atom C 3’, 4’ dan 5’ pada cincin B. Flavonoida berupa senyawa yang larut dalam air dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoida berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila ditambahkan basa atau amonia. Flavonoida mengandung sistem aromatik yang terkonjugasi dan karena itu menunjukkan pada pita serapan kuat pada daerah spektrum sinar UV dan spektrum sinar tampak. Flavonoida umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai glikosida. Flavonoida merupakan senyawa golongan fenol alam bersifat antibakteri.
4. Tanin Tanin merupakan senyawa yang memiliki sejumlah gugus hidroksi fenolik yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Terdapat pada bagian tertentu dari tumbuhan, seperti daun, buah dan batang. Tanin merupakan senyawa yang tidak dapat dikristalkan, dan membentuk senyawa tidak larut yang berwarna biru gelap atau hitam kehijauan dengan garam besi.
5. Triterpenoida/Steroida Triterpenoida adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena. Triterpenoida banyak terdapat pada tumbuhan dan hewan, dapat berada dalam bentuk bebas, maupun dalam bentuk glikosida. Triterpenoida berupa senyawa yang tidak berwarna dan berbentuk kristal. Uji yang banyak digunakan adalah reaksi Liebermann-Burchard yang dengan kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau-biru. Triterpenoida dapat dibagi menjadi empat golongan senyawa, yaitu triterpena sebenarnya, steroida, saponin dan glikosida jantung. Kedua golongan terakhir terutama terdapat sebagai glikosida. Steroida merupakan suatu senyawa yang mengandung inti siklopentanoperhidrofenantren. Steroida memiliki berbagai aktivitas biologik.
B. Metode praktikum
3.1 Alat dan Bahan Praktikum
A. Alat: 1. Pisau/cutter 2. Tabung reaksi 3. Pipet 4. Kertas perkamen, spatel 5. Kertas saring 6. Corong 7. Waterbath 8. Timbangan
B. Bahan: 1. Rimpang temu Giring (Curcuma heyneana val.) 2. Aquadest 3. CHCl3 4. Metanol 5. Etanol 6. Amoniak 7. H2SO4 2N dan H2SO4 P 8. HCl dan HCl P 9. FeCl3 10. Logam Mg 11. Pereaksi Mayer 12. Pereaksi Bouchardat 13. Pasir
3.2 Prosedur Kerja Penelitian
Prosedur Kerja:
A. Pengumpulan simplisia 1. Pengumpulan simplisia Temu Giring (Curcuma heyneana val.) 2. Sortasi simplisia 3. Perajangan 4. Pengeringan.
B. Uji pendahuluan
1. Pemeriksaan alkaloid dengan cara Calvenor dan Fitzgerald • 1 gram sampel segar dipotong halus, digerus dengan pasir secukupnya dan 1 ml CHCl3 • Tambahkan 1 ml amoniak, saring ke dalam tabung reaksi • Tambahkan 5 tetes H2SO4 2N, kocok selama 1 menit. Diamkan • Ambil lapisan asam dibagi dua : 1) Lapisan asam pertama ditambahkan pereaksi Mayer 2 tetes, maka timbul endapan putih 2) Lapisan asam kedua tambahkan pereaksi Bouchardat 2 tetes, maka timbul endapan putih.
2. Pemeriksaan flavonoid • 2 gram sampel ditambahkan 2 ml methanol, kemudian dipanaskan lalu disaring dalam keadaan panas dan pekatkan di waterbath • Tambahkan HCl (pekat) dan logam Mg, hasil positif berwarna merah.
3. Pemeriksaan terpen/steroid, fenol, dan saponin • 2 gram sampel ditambahkan 2 ml etanol kemudian dipanaskan selama 25 menit • Saring dalam keadaan panas, kemudian filtrat diuapkan di waterbath sampai kering. Tambahkan 2 ml CHCl3 • Bagian yang tidak larut dalam kloroform tambahkan 1 ml aquadest • Ambil 2 ml lapisan air: 1) lapisan air dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kocok, jika terbentuk busa mantap dan tidak hilang selama 3 menit positif saponin 2) lapisan air ditambahkan 2 ml HCl dan 1-2 tetes FeCl3 jika terbentuk warna merah positif fenol • Ambil lapisan kloroform, tambahkan pereaksi Bouchardat dan 2-3 tetes H2SO4 pekat maka akan terbentuk warna hijau sampai biru untuk terpen dna warna merah untuk steroid.
4. Pemeriksaan tanin • 2 gram sampel ditambahkan 10 ml aquadest, dipanaskan di waterbath • Saring dalam keadaan dingin, tambahkan FeCl3 akan terbentuk warna biru tua positif tanin.
C. Hasil dan Pembahasan
Tabel 4.1.1 Identifikasi Kandungan rimpang remugiring
E. Keterangan : F. + = Mengandung senyawa tersebut G. - = Tidak mengandung senyawa tersebut
Berdasarkan tabel 4.1.1 terlihat bahwa Rimpang Temugiring mengandung alkaloid, flavonoid dan steroid tetapi tidak mengandung saponin, terpen, dan tanin.
Berdasarkan tabel 4.1.1 terlihat bahwa rimpang temugiring mengandung alkaloid, flavonoid dan steroid tetapi tidak mengandung saponin, terpen, dan tanin. Untuk mengetahui apakah rimpang Temugiring mengandung 6 senyawa fitokimia tersebut kita harus melakukan uji identifikasi terlebih dahulu. Pertama adalah kandungan alkaloid, dimana rimpang temugiring segar bersama pasir digerus dan tambahkan CHCl3, kemudian basakan dengan ammonia dan tambahkan H2SO4 kemudian kocok sampai terbentuk dua lapisan asam, masing-masing lapisan ditambahkan pereaksi Mayer dan pereaksi Bouchardat. Berdasarkan hasil praktikum, Rimpang Temugiring mengandung alkaloid karena terbentuk endapan putih dengan pereaksi Meyer dan pereaksi Bouchardat. Namun pada literatur tidak disebutkan rimpang temugiring mengandung alkaloid.
Kedua pengujian flavonoid, rimpang temugiring ditambahkan etanol kemudian disaring, lalu tambahkan HCl Pekat dan Logam Magnesium. Berdasarkan hasil praktikum, rimpang temugiring mengandung flavonoid karena memberikan warna merah. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa rimpang temugiring mengandung flavonoid.
Ketiga pengujian terpen, steroid, fenol dan saponin. rimpang temugiring diekstrak dengan etanol kemudian ditambahkan kloroform dan air sehingga membentuk dua lapisan yang tidak bercampur yaitu lapisan air yang bersifat polar dan lapisan kloroform yang bersifat non polar. Maka saponin dan fenol akan terdapat pada lapisan air, sedangkan steroid dan terpen terdapat pada lapisan kloroform. Berdasarkan hasil praktikum, rimpang temugiring pada bagian lapisan air setelah dikocok tidak membentuk busa selama 3 menit yang menandakan bahwa rimpang temugiring tidak mengandung saponin. Begitu pula setelah ditambahkan FeCl3 tidak terbentuk warna merah yang menandakan bahwa rimpang temugiring tidak mengandung fenol. Selanjutnya pada bagian lapisan kloroform ditambahkan Liebermen Bouchardat, asam asetat anhidrat dan H2SO4 terbentuk warna merah yang menandakan bahwa rimpang temugiring mengandung steroid tetapi tidak mengandung terpen.
Keempat pengujian tanin, rimpang temugiring ditambahkan aqudest kemudian dikocok dan disaring setelah itu filtrat yang didapat ditambahkan FeCl3. Berdasarkan hasil praktikum, rimpang temugiring tidak mengandung tannin karena tidak memberikan warna biru tua.
Berdasarkan hasil praktikum terdapat ketidaksesuaian kandungan pada literatur. Hal ini disebabkan umur tanaman pada saat panen, waktu panen, lingkungan tumbuh tidak diketahui dan tidak terstandar.
H. Kesimpulan
Rimpang Temugiring mengandung alkaloid, flavonoid dan steroid
Daftar Pustaka:
Dari berbagai sumber