Tampilkan postingan dengan label cerpen islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

Wanita Shalehah, Istri yang Layak Dicintai

Rasulullah saw. pernah memberikan gambaran karakter seorang wanita shalehah, sekaligus istri yang layak dicintai melalui kisah berikut:

Kisah bermula ketika Rasul mengunjungi putrinya, Fatimah Az-Zahra r.a. yang terlihat kepayahan mengurusi keperluan rumah tangganya. Saat itu, Fatimah meminta kesediaan Rasul untuk meringankan pekerjaannya dengan memberikan seorang hamba sahaya. Tetapi, Rasulullah saw. tidak berkenan memberikannya hamba sahaya, beliau malah mendoakan kebaikan bagi Fatimah, sambil menyatakan bahwa istri yang mengurusi keperluan rumah tangganya sebagaimana karakter seorang wanita dalam Islam, yaitu Ummu wa rabbatul bait yang akan mendatangkan keridhaan Allah Swt. Rasul juga memerintahkan Fatimah untuk mengunjungi rumah Fulanah binti Fulan yang dikatakan Rasul bahwa Fulanah itu adalah wanita shalihah calon penghuni surga, agar Fatimah bisa mengambil pelajaran dari kepribadian Fulanah.

Fatimah pun segera menunaikan perintah Rasul itu, sambil menggendong anaknya, Hasan bin Ali bi Abi Thalib r.a. Sesampainya di rumah Fulanah binti Fulan, Fatimah pun mengucap salam, sambil mengetuk pintu. Setelah salamnya terjawab, Fatimah meminta izin yang punya rumah untuk masuk. Tetapi, Fulanah binti Fulan sama sekali tidak mengizinkannya. Ketika Fatimah menanyakan alasannya, Fulanah menjawab, "Engkau datang bersama anak lelakimu, dan sesungguhnya suamiku tidak berkenan kalau ada rajul ajnabi (lelaki asing) di rumahnya, selagi dia tidak ada dirumah."

"Tetapi bukankah Hasan masih kecil dan belum baligh?" tanya Fatimah.

"Betul, Tetapi dia tetap rajul ajnabi bagi diriku. Aku pun harus bersifat amanah atas perintah suamiku."

Maka, kagumlah Fatimah atas pribadi mulia Fulanah binti Fulan itu. Dia pun kembali pulang ke rumahnya, dan menitipkan Hasan kepada Rasulullah saw. Kemudian Fatimah kembali ke rumah Fulanah binti Fulan untuk mengetahui keshalihan wanita yang dijanjikan Rasul sebagai calon penghuni surga tersebut.

Setelah diizinkan masuk ke dalam rumah Fulanah binti Fulan, Fatimah kagum melihat kesibukan Fulanah dalam mengurusi keperluan rumah tangganya. Kemudian, putri Rasulullah saw tertegun melihat di meja makan Fulanah telah tersedia makanan hangat, minuman segar, dan... sebuah cambuk! Fatimah memahami untuk apa makanan dan minuman itu dihidangkan.  Tetapi, untuk apakah cambuk disediakan di atas meja makan?

Saking penasaran atas apa yang dilihatnya, Fatimah segera menanyakan hal itu kepada tuan rumah. Fulanah binti Fulan hanya tersenyum, kemudian menjelaskan bahwa makanan, minuman, sekaligus cambuk itu disediakan untuk suaminya.  Kalau seandainya suaminya itu tidak ridha atas bakti dan pelayanannya sebagai istri, maka ia bersedia untuk dicambuk demi menebus ketidakridhaannya itu. Fulanah juga menyatakan bahwa dia sungguh berharap keridhaan suaminya, karena keridhaan suami adalah keridhaan Allah Swt.

Maka, semakin kagumlah Fatimah Az-Zahra r.a atas kualitas keshalihan Fulanah binti Fulan yag dikatakan Rasulullah sebagai calon penghuni surga itu. Fatimah juga membenarkan apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, bahwa sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah, semulia-mulianya manusia adalah yang paling bertakwa, dan sebaik-baik wanita adalah yang paling pintar menyenangkan hati suaminya.



Dikutip dari buku: On Being Great Lover, Menjadi Istri yang Layak Dicintai

Minggu, 30 April 2017

Cinta Tak Harus Memiliki

Mengambil ibrah dari kisah cinta seorang sahabat Rasulullah saw., Salman Al Farisi. Ia adalah mantan budak dari isfahan yang mencoba mencari kebenaran hingga akhirnya menemui Rasulullah dan masuk islam.

Suatu ketika terpikirlah oleh Salman untuk menggenapkan separuh agamanya, ia ingin mencari pendamping hidup, yang akan menjadi teman serta penyemangat dalam perjuangan. Saat itu, ternyata diam-diam menaruh perhatian pada seorang wanita anshar, namun ia tak berani melamarnya, sebagai seorang pendatang ia merasa asing di Madinah, ia tak tahu menahu tentang adat serta budaya arab terkait melamar wanita, tradisi mengkhitbah dan lain sebagainya.

Abu Darda' namanya, ia sahabat baik Salman Al Farisi, penduduk asli Madinah. Salman pun menyampaikan isi hatinya pada Abu Darda' kalau dia sedang tertarik dengan salah seorang wanita salehah dan bermaksud melamarnya untuk menjadi istri. Senyum sumringah tanda bahagia hadir di wajah Abu Darda', ia peluk sahabatnya itu dan ia pun bersedia membantu menemani Salman mengkhitbah wanita itu.

Salman pun mendatangi rumah sang gadis dengan ditemani Abu Darda'. Keduanya begitu gembira. Setiba di rumah wanita salehah tersebut, keduanya pun diterima baik oleh tuan rumah.

"Saya adalah Abu Darda' dan ini adalah saudara saya Salman dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah saw. Bahkan Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait (keluarga) nya." Ujar Abu Darda' menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih.

"Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri Anda," lanjut Abu Darda' kepada wali si wanita, menjelaskan maksud kedatangan mereka.

Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan melamar putrinya. "Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat." Ujar ayah si wanita.

Namun sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah,  ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Meski yang datang adalah seorang sahabat Rasul, sang ayah tetap meminta persetujuan sang putri.

"Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami." Ujarnya kepada Abu Darda' dan Salman Al Farisi.

Sang tuan rumah pun kemudian memberikan isyarat kepada istri dan putrinya yang berada di balik hijab. Rupanya, putrinya telah menanti memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. Mewakili sang putri, ibunya pun berkata, "Mohon maaf kami perlu berterus terang." Ujarnya membuat Salman dan Abu Darda' tegang menanti jawaban.

"Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak lamaran Salman." Jawab ibu si wanita yang tentu saja akan menghancurkan hati Salman. Namun Salman tegar.

Tak sampai disitu, sang ibunda melanjutkan jawaban putrinya, "Namun karena kalian berdualah yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab 'iya' jika Abu Darda' memiliki keinginan yang sama seperti Salman," kata ibu si wanita. Wanita yang Salman inginkan untuk menjadi istrinya, wanita yang karenanya ia meminta bantuan Abu Darda' untuk membantu pinangannya. Namun justru wanita itu memilih Abu Darda', yang hanya menemani Salman.

Sampai disini kita berhenti sejenak, coba bayangkan kira-kira apa yang dirasakan dan akan dilakukan oleh Salman Al Farisi?

Cemburu? Sakit hati? Atau mungkin merasa membawa orang yang salah sebagai pendamping?

Ternyata hal itu tidak terjadi pada Salman Al Farisi, hati beliau sangat luas dan sangat mulia untuk menerima hal ini. Ia memahami cinta adalah sebuah perwujudan bagaimana orang yang dicintainya bahagia walau ia tak bersama dengannya, ia mengikhlaskan jika ternyata wanita itu lebih bahagia bersama temannya, sahabatnya, saudaranya Abu Darda'.

Dengan ketegaran hati yang luar biasa, ia justru menjawab, "Allahu akbar!" Seru Salman girang.

Tak hanya itu, Salman justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. "Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan kuberikan semua kepada Abu Darda'. Aku juga akan menjadi saksi pernikahan kalian." Ujar Salman sengan kelapangan hati yang begitu hebat.

Begitulah seorang sahabat Rasul, Salman Al Farisi mengajarkan kita tentang cinta, memaknai cinta sebagai anugerah yang harus disyukuri, mengartikan cinta sebagai proses bagaimana menjaga serta melindungi.

Dikutip dari: Buku Jodohmu dekat, dia ada dalam dirimu. (Agus Ariwibowo & Fidayani)

Jumat, 21 Januari 2011

sahabat dalam dakwah

tadi baru saja melihat foto2 sahabatku, sebut saja S, di facebook. Tanpa tersadar, airmata ini menetes. Ada apa kiranya air mata ini memaksa keluar??

***

Kami memulai persahabatan kami di smp. Berlanjut di sma. Ada yang menyebutnya sekolah madrasah aliyah. Aneh. Ya, karena kerohanian islam di sana sangat kental. Kami terjerat. Kelas satu sma kami memakai jilbab. Entah, itu disebut jilbab atau kerudung. Yah, yang jelas rambut kami tertutupi. Kain putih itu masih tipis, dan kemungkinan besar menerawang. Saat itu kami belum begitu ngeh dengan jilbab syar’i. Lambat laun, jilbab kami memanjang. Sedikit, demi sedikit. Perlahan, kain putih itu menutupi tempat yang memang seharusnya dia tutupi.

Dengan kain putih yang semakin kami tarik kebawah agar menutupi dada, semakin menerawanglah ia. S, memulainya. Dia mendobel kerudungnya. Ya, dengan melihat dan meniru style kakak kelas kami yang sudah terlebih dahulu begitu.

Subhanallah, dia terlihat begitu anggun. Lagipula, wajahnya memang cantik. Jilbab tebal nan panjang itu melambai setiap kali ia berjalan.

Apa? Aku? Bagaimana dengan aku?
Ya, aku juga seperti itu sih. Memakai jilbab syar’i. Ditambah dengan manset menutupi ujung tangan kami. Tapi memang, aku tak seanggun, selembut, dan secantik dia. Tapi, yasudahlah, itu tak penting menurutku. Yang jelas, aku senang bersahabat dengannya.

***

suara tilawahnya bagus, perlahan dan tajwid yang dibacanya benar. Napasnya panjang, sehingga terdengar begitu indah. Subhanallah,Aku yang mendengarkannya saja begitu terbawa suasana. Aku ingin seperti dia. Karena suara tilawahku tidak sebagus itu.

***

kubuka terus album foto di facebook itu. Semakin kulihat, semakin miris hati ini. Ah, ukhti, ada apa dengan dirimu? Apa yang membuatmu berubah?

***

memang banyak yang memakai kain putih di kepala itu di sekolahku. Ya, meskipun secara tersirat terlihat seperti dua aliran. Jilbabers, dengan jilbab syar’i nya. Dan jilbab gaul, dengan lilitan-lilitan ataupun si kain putih yang menerawang itu. Kami masuk golongan yang mana? Tentu kau sudah bisa menebaknya.

Kami pun terbawa arus. Tersesat di jalan yang benar. Banyak yang mengatakan seperti itu.
***
Ahh, tak sanggup jari ini meng-klik untuk foto-foto selanjutnya. Apa penyebabnya ukh? Apa?? Katakan padaku, sahabatmu ini, sahabat 6 tahun kita bersama. Melewati manis pahit kehidupan sma, cobaan, ujian. Kita sama-sama belajar menjadi perempuan yang lebih baik. Akhwat ukh!! Jangan lupakan tujuan kita, ukh, jannahNya.. jangan berhenti sebelum kita masuk kesana..

***

pengumuman itu. Ya. Pengumuman itu yang mulai memisahkan kita. Saat itu, tak terpikir olehku jarak akan membuat engkau berubah. Mengapa?? Karena tiga tahun dibina oleh murabbiah kita, tidakkah itu membekas di hati ini? Tidakkah cerita cerita miris tentang banyak akhwat yang berubah setelah di perkuliahan itu membuat kita enggan mengambil pelajaran?? Dan berpikir, kita tidak akan menjadi salah satu bagian dari akhwat itu?? Tapi, ternyata, engkau menjadi salah satu bagian dari akhwat itu.

Apakah godaan disana begitu kuat ukh? Tak adakah sesuatu untuk kau pegang?? Iman!! Dimana iman itu ukh? Dimana??? Apa kabar iman itu ukh? Apa kabar??

Masihkah ia putih, seputih kain putih yang dahulu kita kenakan bersama-sama??

Mungkinkah engkau sudah terkena seleksi alam itu?? Ah, tidak. Jangan ukh, aku sangat sayang padamu, jangan pergi dari sini. Jalan ke-islaman.

***

Ah, kain itu sudah berubah seperti sedia kalanya. Awal dia memakainya. Manset mu dimana ukh?? Tertinggalkah ia di jakarta?? Kain dobelan jilbab mu dimana?? Belum keringkah ia, karena disana sering hujan, sehingga engkau tak mendobel kerudung tipismu?? Astaghfirullah, sungguh ukh, tak ingin aku bersu’udzhan.

Tapi aku hendak bertanya. Masihkah kaos kaki itu kau pakai? Masihkah engkau mengikuti mentoring pekanan? Masihkah engkau baca surat cintaNya? Masihkah engkau jauhkan dirimu dari virus mematikan bagi seorang aktivis dakwah? Masihkah ukh?? Masihkah?? Masihkah?!!!
Semoga, ya.
Dan aku ingin dengar, kata ya, dari bibirmu.

***
jakarta, 29 november 2009
aku yang sangat mencintai sahabat2ku, sahabat dalam dakwah.

pesona mu ukhti....

aku tdk tahu, apakah pesona ny yang memikat, atau akal ku yg sedang tiada di tempat"*1

kita memiliki byk kesamaan, itu yg membuat aku terus berpikir,

kita jodoh..


saat sahabatku si bph rohis mengingatkan,

"tataplah dgn mata hatimu, jangan terpedaya oleh mata di wajahmu.."


Ya,ya, kupikir, aku melihatmu dgn mata hatiku..

kamu tdk cantik, walaupun kuakui kamu sedikit manis,

kamu tdk lebih pintar dariku, walaupun kuakui kamu memang cerdas dan berbakat,

dan, ya.. Aku melihat dgn mata hatiku,

kamu sholehah dgn kain putih menutupi rambutmu, (pikirku saat itu)

kamu berbeda,

dan kita sama...

Menurutku, pantaslah aku mendapat julukan ikhwan dgn notabene ku sbg bph rohis, meskipun aku takut juga jika nanti di yaumul mizan, bagaimana aku mempertanggungjawabkan amanah yg hanya aku jadikan pengisi waktu luang, tanpa hati,

tapi, yasudahlah, hidupku masih panjang, nanti saja aku taubat nasuha... Haha *2


"aku tdk tahu, apakah pesona ny yg memikat, atau akalku yg sedang tiada di tempat"

aku pikir, kita bisa pacaran.

Eitss,tunggu dulu ukh, pacaran islami dong..

Aku juga tahu syariat.. Jadi, aku takkan melanggarnya..


Hmm.. Ternyata sulit juga mengumpulkan keberanian untuk menembakmu,

perasaan yg berbeda..


Kamu begitu istimewa,

kucari tahu semua tentang dirimu.. Hobby mu, sekolah mu dulu, keluargamu, dan bahkan sudah kutemukan alamat frenster mu..

Mulai kubuka, kucari tahu.

Subhanallah, dahulu kamu anak madrasah? Wow, that's cool..

Aku semakin kagum..

Kagum dan kagum..

apalagi melihat mu yg sepertinya sangat alim..


banyak info yang kudapat dr fs mu.. Tak sulit kucari tahu tentang dirimu..

Lagi dan lagi, aku terkagum.

seorang bph osis, bahkan.. wah,wah, aku tidak salah melihat pesona mu..

kenapa sepertinya Allah memberi jalan bagi kita?

ya, jadi lebih mudah.

Aku, yang saat itu menjadi ketua panitia sebuah acara, melihat list daftar contact person sekolah lain..

apa? Aku melihat nama yang mirip dengan nama mu. Tidak. Tidak mungkin. Itu benar namamu.

*nama disamarkan (silakan bayangkan sendiri)*

kartu mu si kuning.

berdegup kencang jantungku. Sesak nafasku. Shock anafilaksis...

berhari-hari aku gemetaran memegang telepon selular ku, meski hanya melihat nomor ponsel mu..

astaghfirullah, perasaan apa ini?

sepertinya setan berhasil menemukan celah diriku..

ku ketik sms pertama ku padanya.

Wow,ternyata dia sangat ramah. Berlanjutlah percakapan kami.

Dia ternyata tipe wanita yg sangat menyenangkan utk diajak berdiskusi.

Kamu berbeda,

dan kita sama..

kamumania,

ya, aku menjadi kamumania..


kamu suka film xxxx? Hmm.. akan kucari tahu.,

kamu suka musik? Olahraga? Buku?


dan aku suka semua yg kamu suka..


ahh.. terlalu meng-adiksi..

kamu terlalu sulit dilupakan dan diskusi dgnmu sangat menyenangkan..

kamu tahu apa yg tak ku ketahui,

sadarkah ukh? Kita saling melengkapi..

ah, lelah terus menerus seperti ini.

aku penasaran, penasaran dengan perasaanmu kepadaku. Apakah kamu merasa hal yg sama denganku?

Ahh, tak berani ku ber-spekulasi.

kenapa? Rasa apa ini? Kamu tidak menyukai ku kah?

perasaan aneh, ku kirim saja email, bertanya padamu.

Sama saja. Ramah tetapi datar.

Biar saja, karna aku terlanjur kagum.

Tentu saja sahabatku si bph rohis itu tdk mengetahui yg kurasakan dan kulakukan..

Ah,, seperti paranormal dia. Tak tahu darimana, tak ada gunung meletus atau tsunami.. Dia memberiku sebuah artikel tentang tipu muslihat setan yg akan menyesatkan seluruh umat manusia. "cari temen" buat di neraka.. dan cara yg dia pakai adl pacaran via dunia maya (ponsel) yg termasuk berkhalwat dgn bukan muhrim, -meski banyak yg kontra terhadap hal ini-

Astaghfirullah.. (nampaknya aku termasuk yg pro)

bagai tersambar petir, terkena wedhus gembel gunung merapi, bahkan tersapu tsunami mentawai..

aku tersadar,

dan aku tersadar.

bahwa yg aku lakukan selama ini salah, telah melenceng dr syariatNya..

telah ku nodai hatiku, dan telah tertipu aku oleh tipu daya setan..

Aku benci melihat setan tersenyum bangga saat melihatku berhasil masuk ke perangkapnya. Sial, sial..

dan aku, kini, berniat bertaubat. Taubat nasuha. Tak perlu ku tunda.

Ditambah lagi si bph rohis yg terus menerus mencekoki ku dengan artikel2 islami.

Kalimat "wanita yg baik, utk laki-laki yg baik.."

astaghfirullah..

kamu, wanita yg baik, teganya aku ingin menodai hatimu, juga cinta mu padaNya, mungkin..

ku hapus niatanku untuk menjadikanmu pacarku, dan ku ubah dengan doaku padaNya..

Entah mengapa aku begitu yakin akan kalimat diatas. Aku, bukan laki-laki yg baik, apalagi pantas disebut ikhwan, -meski ada tampang dan selalu berpenampilan layaknya seorang ikhwan-

aku pikir, kita tidak akan pernah berjodoh.

kita berbeda, tidak mirip, kenyataanya.

Jadi, aku putuskan utk berubah. Berubah jadi manusia yg lebih baik,

ya, yg lebih baik, mungkin saja Allah berkenan menjadikan kita jodoh..

itu harapanku.

Kukirim email, bahwa aku telah memutuskan utk berubah. Menjadi manusia yg lebih baik. Kukatakan, sebaiknya kami berhenti berhubungan, bukan, bukan dengan niat ingin memutus silaturahim, tetapi, agar aku lebih khusyuk dalam perbaikan diri, karna, aku pun tak tahu, tipu daya setan seperti apa lagi yg akan mencelakakanku.. aku manusia biasa.. aku punya hati, dapat mencintai..

Ya, dan ukhti pun membalas. Kami sama-sama setuju

Dengan berat hati, ku hapus nomor ponselnya. Ahh, tidak. Aku terlanjur hapal nomor ponselnya. Semakin berat saja rasanya perjuanganku ini.

dan alamat emailnya pun terlanjur ku hapal.

Istighfar. Ku ucap beratus-ratus kali.

Aku laki-laki.

Pantasnya, aku memegang prinsip, dan menepati janji, apalagi ini janji dengan Zat Yang Maha Pencipta..

Disela doaku, kusempatkan. Berharap Allah berkenan menjodohkan kami. Cinta ini, biar ku pendam, sampai saat yg tepat, menjadi halal dan indah.. Aku akan mengkhitbahmu..

Kusibukkan diriku dengan tarbiyah. Kini, aku bukan aku yg dulu. Kusibukkan diriku dgn amanah2. Kuperbanyak ilmu tentang agama. Mungkin ilmu agama kita bisa sepadan, dan Allah berkenan menjadikan kita jodoh..

Lama tak berkomunikasi. Namun, bukan berarti aku melupakan kenangan bersamamu. Aku pun masih ingat nomor ponsel dan alamat emailmu. Tapi, tentu saja rasa ini telah ku bingkai dengan ma'rifatullah, dan kupagari agar tidak melenceng dr syariatNya..

Lama dan lama..

Hp ku berdering. Satu pesan masuk. Nomor tidak tersimpan.

Apa? Tidak mungkin. Ukhti mengirimiku sms. Padahal dulu, selalu aku yg memulai percakapan.

Apa kamu berubah?

Rasa ingin tahuku kembali muncul. Jiwa detektifku menyeruak.. Kuputuskan untuk mencari tahu, seperti apa dirimu sekarang.. sekaligus kujadikan pertimbangan, pemantap untuk mengkhitbahmu, nanti.

Sepertinya, tidak ada hal aneh atau perubahan berarti dr dirimu.

Ah,tentu saja. Kamu tidak berubah. Masih sama seperti dulu.

Tapi, aku yg kini, agak ilfeel dgn wanita yg terlalu dekat dgn lawan jenis.. Semoga memang benar, niatmu hanya untuk menjalin silaturahim.

Aku tertarik untuk membuka diskusi baru denganmu. Tema nya klasik, tapi menarik. Tentang pacaran di kalangan aktivis, dan peran kita sebagai sahabat dlm terjerumusnya ke lembah pacaran.

Ini akan menjadi diskusi yg alot. Dan aku akan memperlihatkan semua kebolehanku, ilmuku yg selama ini kupelajari.
kukirim email.
dengan harap harap cemas, aku menunggu balasan.

satu jam.

dua jam

satu hari, seminggu.

tak mungkin kamu tdk membaca nya.

Sibukkah?

Atau, bingungkah harus menjawab apa? Aneh. Kenapa harus bingung. Kamu tidak pernah kehabisan kalimat2 utk diuraikan. Sederhananya, kamu hanya perlu menjelaskan, apa yg menjadi jawabanmu, dan itu menyiratkan prinsipmu. Dan kamu terdiam.

Apa? Mengapa?

apakah kamu tipe orang yg melegalkan pacaran? Apa prinsipmu sebenarnya? Dan, bagaimana dirimu sebenarnya??

ataukah, ataukah aku sendiri yg ber-spekulasi? Dibutakan oleh kekaguman ku pada dirimu? Ekspektasi yg terlalu tinggikah? Ataukah pesona dr sosokmu yg tak kutemukan pada akhwat lain telah membuatku mengkhayalkan tentang sosok sempurna dirimu?



'aku tak tahu, apakah pesona ny yg memikat, atau akalku yg sedang tiada di tempat"

wanita yg baik, untuk laki-laki yg baik..

laki-laki yg baik, untuk wanita yg baik..

kubuka Al Qur'an terjemahan, Qs. an Nur ayat 26 (mari kita sama2 buka)

"perempuan perempuan yg keji utk laki laki yg keji, dan laki laki yg keji utk perempuan yg keji (pula), sdgkn perempuan perempuan yg baik utk laki laki yg baik, dan laki laki yg baik utk perempuan perempuan yg baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yg dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yg mulia (surga).

juga Qs an Nur ayat 3..

"pezina laki laki tdk boleh menikah kecuali dgn pezina perempuan, atau dgn perempuan musyrik, dan pezina perempuan tdk boleh menikah kecuali dgn pezina laki laki atau dgn laki laki musyrik. Dan yg demikian itu diharamkan bagi orang mukmin."


wallahu a'lam bishshawwab


*1: perkataan seorang penyair, hasil saduran

*2: kalimat yg tidak baik, sangat disarankan untuk tidak ditiru.

Ahlan wa Sahlan ya Akhi..


“Subhanallah, belum pernah aku menemukan seorang ikhwan (laki-laki) sepertimu. Semoga Allah selalu menjagamu.” Lirih Zahra ketika melihat Arif berjuang keras mencari dana untuk acara Pesantren Kilat.
Menurut Zahra Althafunnisa, Arif adalah pemuda yang beda, boleh dibilang langka. Dia pandai, rajin, dan alim. Kepandaiannya tidak hanya dibidang ilmu eksak, tapi juga ilmu agama. Suaranya ketika mengumandangkan adzan atau tilawah Al-Qur’an sangat indah. Semua akhwat (perempuan) di sekolah mengaguminya, tak terkecuali Zahra. Namun Zahra telah berprinsip bahwa tidak akan berpacaran sebelum menikah. Oleh karena itu, Zahra selalu menjaga hijab (menjaga pandangan) dengan semua ikhwan, termasuk Arif.
Pemuda kedua yang membuat Zahra bingung adalah Michael. Michael beragama Kristen, namun dia banyak membaca buku Islam berbagai judul.
“Aku pernah bermimpi. Aku didatangi oleh seseorang berpakaian putih dan memakai peci, memberikanku Al-Qur’an dan sarung. Di belakang orang itu, ada perempuan berjilbab rapi dan terus berkata Allah, Allah, Allah. Saat aku hendak mencari kebenaran, kakekku melarang.” Cerita Michael kepada Arif.
* * *
“Baiklah, kita tutup kajian ini dengan membaca doa Kifaratul Majelis (Doa penutup).” Ucap pembicara kajian. “ Insya Allah kita bertemu lagi minggu depan. Wassalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Arif dan seluruh peserta kajian di SMA 16.
Arif keluar masjid dan nampaknya ia belum melihat Zahra di kajian. Padahal sudah tiga kali kajian. Arif pun mulai bertanya tanya. Lalu dia mengirim pesan singkat (SMS) ke Zahra.
Asslm.
knp sdh 3 hari ini anti tdk dtng ke kajian?

Zahra kaget, kenapa sudah seminggu ini Arif menjadi aneh. Dia selalu menunjukkan sikap yang berlebihan. Dan sekarang, malah mengirim SMS. Zahra pun membalas dengan singkat.

Wa’alaikumslm.
Aq pndah kajian. Syukron jzk.
Arif membalas,
Knp?? Bukannya anti bilang klo anti suka dgn cara pmbicarany mnympaikn materi?? Knp pindah??

Zahra membalas,
Biar dkt rumah. Af1 sbntr lg adzan ashar, sbaikny kamu shalat.
Wasslm.
* * *
Pagi hari di sekolah, Zahra menemukan selembar kertas berisi materi kajian lanjutan setelah ia pindah. Di bagian bawah tertulis nama Arif.
Minggu berikutnya, Zahra menemukan lagi kertas itu. Terus menerus sampai enam minggu. Awalnya ia merasa biasa, karena di kertas itu hanya berisi materi saja dan itu wajar serta tidak berlebihan. Namun, lama kelamaan Arif menambahkan sesuatu di kertas itu. Seperti pertanyaan ataupun pernyataan yang menurutnya berlebihan. Akhirnya, Zahra memutuskan untuk bicara dengan Arif.
“Arif, aku mau ngomong sama kamu.” Kata Zahra seraya menundukkan pandangan.
“ ‘ala riskika (ada apa) ?”
“Aku minta kamu hentikan sekarang juga kiriman kajian itu.”
“Lho, kenapa?”
“Menurut aku, itu udah berlebihan”
“Berlebihan gimana maksud anti (kamu)?”
“Lembaran di kajian itu menjadi lebih banyak pertanyaan dan pernyataan kamu dibandingkan materi kajiannya.”
“Oh, itu karena ana (saya) suka diskusi sama anti”
“Apa menanyakan sudah sarapan itu diskusi?”
“Hmm..”
“Itu nggak wajar. Kita tahu itu. Maka sebaiknya kita hentikan.”
“Tapi,..”
“Afwan (maaf), Assalamualaikum.”
“Tunggu ukh, ana juga nggak tahu kenapa sebenernya ana ngelakuin itu. Kayak ada perasaan yang nyuruh ana ngelakuin itu.”
“Wah, itu sudah setan Rif, harusnya kamu tahu itu.”
“Tapi ukh..”
“Begini. Kita sama-sama sudah tahu apa itu VMJ (Virus Merah Jambu/Pacaran), dan aku nggak menampik kemungkinan kalo kita bakal terjerat itu. Jadi sebaiknya kalo nggak ada hal yang penting, mendingan kita nggak usah ketemu atau ngobrol.”
“Iya. Afwan jiddan (maaf banget) atas sikap ana selama ini.”
Itulah percakapan terakhir antara Zahra dan Arif, setelah kejadian itu mereka tidak pernah saling berbicara dan terkesan seperti orang marahan.
* * *
Setahun kemudian, mereka lulus dari SMA 16 dan melanjutkan jalan hidup masing-masing. Zahra masuk STIS, dan Arif masuk Tekhnik Informatika ITB. Sekarang, Zahra sudah lulus dari STIS dan sedang menjalani dinas di BPS Bandung. Sementara Arif masih duduk di semester akhir Tekhnik Informatika ITB.
“Ra, sabtu ini ada acara nggak?” Tanya Via teman kerja Zahra di BPS Bandung.
“Ada. Kan aku ada kajian di Masjid Raya Bandung.”
“Oh iya, sayang banget. Padahal kita udah hampir satu tahun di Bandung, tapi belum pernah pergi kemana-mana.”
“Maaf yah, kan kamu tahu sendiri kalo hari sabtu aku nggak bisa. Gimana kalo hari minggu? Tapi emangnya kita mau kemana sih?”
“Gue pengen nyobain kuliner di Bandung, apalagi yang di depan kampus ITB, katanya ma’nyoos gitu..”
“Yaudah, kita ketemu hari minggu jam 11 di halte depan kampus ITB”
“Oke. Don’t be late yaa..”
“Insya Allah, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
* * *
Sabtu, pukul sembilan pagi Zahra sudah sampai di Masjid Raya Bandung. Tidak seperti biasanya, masjid sepi. Lalu Zahra memutuskan untuk melaksanakan shalat Dhuha. Setelah selesai, ia kemudian membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba, ada seorang ikhwan berperawakan tinggi memakai baju koko biru dan peci biru menghampiri Zahra yang masih asyik dengan tilawahnya. Suara indah Zahra terdengar hingga ke telinga si ikhwan. Sempat sesaat si ikhwan terpesona, namun dengan segera ia kembali bisa menguasai dirinya.
“Assalamualaikum” salam si ikhwan kepada Zahra.
“Wa’alaikumsalam, Astaghfirullah.. Afwan, ini daerah akhwat, kenapa kamu…” Jawab Zahra kaget.
“Iya. Ana tahu. Afwan juga sebelumnya kalau mengagetkan antum (kamu). Ana kesini untuk memberitahu antum bahwa masjid akan dibersihkan untuk dipakai kajian. Sebaiknya antum lebih bergeser ke belakang. Afwan”
“Oh iya. Afwan, bukannya kajian dimulai dari jam sembilan tadi?”
“Jadwal berubah, sekarang kajian dimulai jam sebelas. Antum ikut kajian juga?”
“Iya. Oh iya, apa kamu pengurus masjid?”
“Iya. Permisi. Assalamualailkum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Zahra sempat melihat wajah si ikhwan itu, setelah dari tadi mereka berdua sama-sama menundukkan pandangan. Lima belas menit kemudian kajian dimulai. Pengisi materi bernama Muhammad Fadillah, lulusan Sastra Arab di Mesir tujuh bulan yang lalu. Sekarang Beliaulah pengganti ustadz Zulkifli yang sangat difavoritkan Zahra.
“Ra, gossip yang beredar, ustadz Fadil tuh ganteng banget lho..” UcapVia yang ternyata juga hadir di kajian.
“Apaan sih Vi, nggak boleh ngegosip di masjid.” Jawab Zahra.
Awalnya Zahra sempat kecewa karena ustadz Zulkifli diganti. Tapi ternyata ustadz Fadillah yang akrab disapa Fadil memiliki kemampuan berdakwah yang bagus. Suaranya saat tilawah sangat indah. Subhanallah.”
* * *
Minggu pukul sebelas Zahra sudah sampai di halte, namun tanda tanda kedatangan Via belum nampak. Hari itu, halte cukup ramai. Tiba-tiba terdengar ringtone handphone.

Majulah wahai mujahid muda, dalam satu…

“Assalamualaikum. Iya, ana udah nyampe. Antum dimana? Oke. Wassalamualaikum” Ucap pemuda yang berdiri beberapa meter dari tempat Zahra berdiri.
Ringtone handphone itu mengingatkannya kepada seseorang yang juga memakai ringtone yang sama saat SMA. Tiba-tiba terdengar kembali suara ringtone handphone, ternyata kali ini handphone Zahra.

Mengarungi samudera kehidupan, kita ibarat para pengembara..

“Assalamualaikum, dimana Vi?” Tanya Zahra kepada Via diujung telepon.
“Wa’alaikumsalam. Bentar yah Ra, gue masih di lampu merah, macet banget.” “Ya udah, nggak apa apa. Hati hati.. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam”
Tiba-tiba, kedua handphone mereka berbunyi. Mereka berdua kaget, dan saling bertatapan. Sementara ringtone mereka terus berdering kencang. Beberapa saat kemudian, mereka tersadar. Lalu mengangkat telepon masing-masing. Setelah selesai menjawab telepon, pemuda itu menghampiri Zahra.
“Zahra ya?” Mereka berdua kembali bertatapan, dan kemudian menundukkan pandangan.
“Iya. Subhanallah, Arif??”
“Iya. Kaif hal (Bagaimana kabarmu)?”
“Ana bi khair. Wa anta kaif. (Saya baik. Dan kamu bagaimana)?”
“Alhamdulillah bi khair (Alhamdulillah, saya baik). Harusnya dari tadi ana sudah tahu kalau itu antum.”
“Kenapa?”
“Itu ringtone yang dulu waktu SMA antum pakai kan??”
“Iya. Kamu juga kan?”
“Iya. Antum sedang apa disini?”
“Menunggu teman. Kamu sendiri?”
“Antum pasti kaget kalo ana ceritakan.”
“Memang ada apa?”
“Ana sedang menunggu Michael, masih ingat?”
“Michael?? Hmm.. iyah.”
Lalu ada seseorang berpakaian putih dan memakai peci menghampiri Arif, mereka lalu bersalaman. Zahra sempat melihat sedikit wajah pemuda itu, ternyata itu pemuda yang ia temui di masjid kemarin. Ia berpikir, apa mungkin ia Michael. Tiba-tiba..
“Ra, ini ustadz Muhammad Fadillah.” Ucap Arif.
“Assalamualaikum.” Sapa Fadil ke Zahra.
“Wa’alaikumussalam. Saya Zahra teman SMA Arif.” Jawab Zahra kaget dan bingung. “Kamu pengisi kajian di masjid raya?” Tanya Zahra ke Fadil.
“Iya.” Jawab Fadil.
“Ini ustadz Fadil yang dahulu bernama Michael. Fad, ini Zahra yang biasa dipanggil Ra, atau Ukhti Nisa.” Ucap Arif mengenalkan Fadil ke Zahra, dan Zahra ke Fadil.
“Apa? Subhanallah, ini Michael.” Zahra kaget.
“Iya. Ternyata anti ukhti Nisa, KOA SMA 16.” Jawab Fadil.
“Iya.” Jawab Zahra. “Ahlan wa Sahlan ya Akhi..(Selamat datang saudaraku..)” Lirihnya dalam hati.
* * *
Satu bulan kemudian, Zahra menerima dua proposal Lamaran yang diberikan kedua orangtuanya. Isinya adalah biodata dari dua orang yang ia kenal. Arif Rahman dan Muhammad Fadillah. Kedua pemuda itu mengajaknya menikah. Zahra berada dalam kebimbangan.
“Pilihlah yang terbaik untukmu nak, ibu selalu mendukungmu.” Nasehat ibu Zahra.
“Bismillah hirrohman nirrohim.. Insya Allah, Zahra memilih Muhammad Fadillah.” Jawabnya. “Ya Allah, jika aku jatuh cinta, berikanlah cintaku ini pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu. Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu. Dan berikanlah rinduku ini, pada seseorang yang merindukan syahid di jalan-mu.. Amin..” Doanya dalam hati.

-sdcahyaningsih
21 Januari 2011

Ahlan wa Sahlan ya Akhi..

“Subhanallah, belum pernah aku menemukan seorang ikhwan (laki-laki) sepertimu. Semoga Allah selalu menjagamu.” Lirih Zahra ketika melihat Arif berjuang keras mencari dana untuk acara Pesantren Kilat.
Menurut Zahra Althafunnisa, Arif adalah pemuda yang beda, boleh dibilang langka. Dia pandai, rajin, dan alim. Kepandaiannya tidak hanya dibidang ilmu eksak, tapi juga ilmu agama. Suaranya ketika mengumandangkan adzan atau tilawah Al-Qur’an sangat indah. Semua akhwat (perempuan) di sekolah mengaguminya, tak terkecuali Zahra. Namun Zahra telah berprinsip bahwa tidak akan berpacaran sebelum menikah. Oleh karena itu, Zahra selalu menjaga hijab (menjaga pandangan) dengan semua ikhwan, termasuk Arif.
Pemuda kedua yang membuat Zahra bingung adalah Michael. Michael beragama Kristen, namun dia banyak membaca buku Islam berbagai judul.
“Aku pernah bermimpi. Aku didatangi oleh seseorang berpakaian putih dan memakai peci, memberikanku Al-Qur’an dan sarung. Di belakang orang itu, ada perempuan berjilbab rapi dan terus berkata Allah, Allah, Allah. Saat aku hendak mencari kebenaran, kakekku melarang.” Cerita Michael kepada Arif.
* * *
“Baiklah, kita tutup kajian ini dengan membaca doa Kifaratul Majelis (Doa penutup).” Ucap pembicara kajian. “ Insya Allah kita bertemu lagi minggu depan. Wassalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Arif dan seluruh peserta kajian di SMA 16.
Arif keluar masjid dan nampaknya ia belum melihat Zahra di kajian. Padahal sudah tiga kali kajian. Arif pun mulai bertanya tanya. Lalu dia mengirim pesan singkat (SMS) ke Zahra.
Asslm.
knp sdh 3 hari ini anti tdk dtng ke kajian?

Zahra kaget, kenapa sudah seminggu ini Arif menjadi aneh. Dia selalu menunjukkan sikap yang berlebihan. Dan sekarang, malah mengirim SMS. Zahra pun membalas dengan singkat.

Wa’alaikumslm.
Aq pndah kajian. Syukron jzk.
Arif membalas,
Knp?? Bukannya anti bilang klo anti suka dgn cara pmbicarany mnympaikn materi?? Knp pindah??

Zahra membalas,
Biar dkt rumah. Af1 sbntr lg adzan ashar, sbaikny kamu shalat.
Wasslm.
* * *
Pagi hari di sekolah, Zahra menemukan selembar kertas berisi materi kajian lanjutan setelah ia pindah. Di bagian bawah tertulis nama Arif.
Minggu berikutnya, Zahra menemukan lagi kertas itu. Terus menerus sampai enam minggu. Awalnya ia merasa biasa, karena di kertas itu hanya berisi materi saja dan itu wajar serta tidak berlebihan. Namun, lama kelamaan Arif menambahkan sesuatu di kertas itu. Seperti pertanyaan ataupun pernyataan yang menurutnya berlebihan. Akhirnya, Zahra memutuskan untuk bicara dengan Arif.
“Arif, aku mau ngomong sama kamu.” Kata Zahra seraya menundukkan pandangan.
“ ‘ala riskika (ada apa) ?”
“Aku minta kamu hentikan sekarang juga kiriman kajian itu.”
“Lho, kenapa?”
“Menurut aku, itu udah berlebihan”
“Berlebihan gimana maksud anti (kamu)?”
“Lembaran di kajian itu menjadi lebih banyak pertanyaan dan pernyataan kamu dibandingkan materi kajiannya.”
“Oh, itu karena ana (saya) suka diskusi sama anti”
“Apa menanyakan sudah sarapan itu diskusi?”
“Hmm..”
“Itu nggak wajar. Kita tahu itu. Maka sebaiknya kita hentikan.”
“Tapi,..”
“Afwan (maaf), Assalamualaikum.”
“Tunggu ukh, ana juga nggak tahu kenapa sebenernya ana ngelakuin itu. Kayak ada perasaan yang nyuruh ana ngelakuin itu.”
“Wah, itu sudah setan Rif, harusnya kamu tahu itu.”
“Tapi ukh..”
“Begini. Kita sama-sama sudah tahu apa itu VMJ (Virus Merah Jambu/Pacaran), dan aku nggak menampik kemungkinan kalo kita bakal terjerat itu. Jadi sebaiknya kalo nggak ada hal yang penting, mendingan kita nggak usah ketemu atau ngobrol.”
“Iya. Afwan jiddan (maaf banget) atas sikap ana selama ini.”
Itulah percakapan terakhir antara Zahra dan Arif, setelah kejadian itu mereka tidak pernah saling berbicara dan terkesan seperti orang marahan.
* * *
Setahun kemudian, mereka lulus dari SMA 16 dan melanjutkan jalan hidup masing-masing. Zahra masuk STIS, dan Arif masuk Tekhnik Informatika ITB. Sekarang, Zahra sudah lulus dari STIS dan sedang menjalani dinas di BPS Bandung. Sementara Arif masih duduk di semester akhir Tekhnik Informatika ITB.
“Ra, sabtu ini ada acara nggak?” Tanya Via teman kerja Zahra di BPS Bandung.
“Ada. Kan aku ada kajian di Masjid Raya Bandung.”
“Oh iya, sayang banget. Padahal kita udah hampir satu tahun di Bandung, tapi belum pernah pergi kemana-mana.”
“Maaf yah, kan kamu tahu sendiri kalo hari sabtu aku nggak bisa. Gimana kalo hari minggu? Tapi emangnya kita mau kemana sih?”
“Gue pengen nyobain kuliner di Bandung, apalagi yang di depan kampus ITB, katanya ma’nyoos gitu..”
“Yaudah, kita ketemu hari minggu jam 11 di halte depan kampus ITB”
“Oke. Don’t be late yaa..”
“Insya Allah, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
* * *
Sabtu, pukul sembilan pagi Zahra sudah sampai di Masjid Raya Bandung. Tidak seperti biasanya, masjid sepi. Lalu Zahra memutuskan untuk melaksanakan shalat Dhuha. Setelah selesai, ia kemudian membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba, ada seorang ikhwan berperawakan tinggi memakai baju koko biru dan peci biru menghampiri Zahra yang masih asyik dengan tilawahnya. Suara indah Zahra terdengar hingga ke telinga si ikhwan. Sempat sesaat si ikhwan terpesona, namun dengan segera ia kembali bisa menguasai dirinya.
“Assalamualaikum” salam si ikhwan kepada Zahra.
“Wa’alaikumsalam, Astaghfirullah.. Afwan, ini daerah akhwat, kenapa kamu…” Jawab Zahra kaget.
“Iya. Ana tahu. Afwan juga sebelumnya kalau mengagetkan antum (kamu). Ana kesini untuk memberitahu antum bahwa masjid akan dibersihkan untuk dipakai kajian. Sebaiknya antum lebih bergeser ke belakang. Afwan”
“Oh iya. Afwan, bukannya kajian dimulai dari jam sembilan tadi?”
“Jadwal berubah, sekarang kajian dimulai jam sebelas. Antum ikut kajian juga?”
“Iya. Oh iya, apa kamu pengurus masjid?”
“Iya. Permisi. Assalamualailkum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Zahra sempat melihat wajah si ikhwan itu, setelah dari tadi mereka berdua sama-sama menundukkan pandangan. Lima belas menit kemudian kajian dimulai. Pengisi materi bernama Muhammad Fadillah, lulusan Sastra Arab di Mesir tujuh bulan yang lalu. Sekarang Beliaulah pengganti ustadz Zulkifli yang sangat difavoritkan Zahra.
“Ra, gossip yang beredar, ustadz Fadil tuh ganteng banget lho..” UcapVia yang ternyata juga hadir di kajian.
“Apaan sih Vi, nggak boleh aha ngegosip di masjid.” Jawab Zahra.
Awalnya Zahra sempat kecewa karena ustadz Zulkifli diganti. Tapi ternyata ustadz Fadillah yang akrab disapa Fadil memiliki kemampuan berdakwah yang bagus. Suaranya saat tilawah sangat indah. Subhanallah.”
* * *
Minggu pukul sebelas Zahra sudah sampai di halte, namun tanda tanda kedatangan Via belum nampak. Hari itu, halte cukup ramai. Tiba-tiba terdengar ringtone handphone.

Majulah wahai mujahid muda, dalam satu…

“Assalamualaikum. Iya, ana udah nyampe. Antum dimana? Oke. Wassalamualaikum” Ucap pemuda yang berdiri beberapa meter dari tempat Zahra berdiri.
Ringtone handphone itu mengingatkannya kepada seseorang yang juga memakai ringtone yang sama saat SMA. Tiba-tiba terdengar kembali suara ringtone handphone, ternyata kali ini handphone Zahra.

Mengarungi samudera kehidupan, kita ibarat para pengembara..

“Assalamualaikum, dimana Vi?” Tanya Zahra kepada Via diujung telepon.
“Wa’alaikumsalam. Bentar yah Ra, gue masih di lampu merah, macet banget.” “Ya udah, nggak apa apa. Hati hati.. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam”
Tiba-tiba, kedua handphone mereka berbunyi. Mereka berdua kaget, dan saling bertatapan. Sementara ringtone mereka terus berdering kencang. Beberapa saat kemudian, mereka tersadar. Lalu mengangkat telepon masing-masing. Setelah selesai menjawab telepon, pemuda itu menghampiri Zahra.
“Zahra ya?” Mereka berdua kembali bertatapan, dan kemudian menundukkan pandangan.
“Iya. Subhanallah, Arif??”
“Iya. Kaif hal (Bagaimana kabarmu)?”
“Ana bi khair. Wa anta kaif. (Saya baik. Dan kamu bagaimana)?”
“Alhamdulillah bi khair (Alhamdulillah, saya baik). Harusnya dari tadi ana sudah tahu kalau itu antum.”
“Kenapa?”
“Itu ringtone yang dulu waktu SMA antum pakai kan??”
“Iya. Kamu juga kan?”
“Iya. Antum sedang apa disini?”
“Menunggu teman. Kamu sendiri?”
“Antum pasti kaget kalo ana ceritakan.”
“Memang ada apa?”
“Ana sedang menunggu Michael, masih ingat?”
“Michael?? Hmm.. iyah.”
Lalu ada seseorang berpakaian putih dan memakai peci menghampiri Arif, mereka lalu bersalaman. Zahra sempat melihat sedikit wajah pemuda itu, ternyata itu pemuda yang ia temui di masjid kemarin. Ia berpikir, apa mungkin ia Michael. Tiba-tiba..
“Ra, ini ustadz Muhammad Fadillah.” Ucap Arif.
“Assalamualaikum.” Sapa Fadil ke Zahra.
“Wa’alaikumussalam. Saya Zahra teman SMA Arif.” Jawab Zahra kaget dan bingung. “Kamu pengisi kajian di masjid raya?” Tanya Zahra ke Fadil.
“Iya.” Jawab Fadil.
“Ini ustadz Fadil yang dahulu bernama Michael. Fad, ini Zahra yang biasa dipanggil Ra, atau Ukhti Nisa.” Ucap Arif mengenalkan Fadil ke Zahra, dan Zahra ke Fadil.
“Apa? Subhanallah, ini Michael.” Zahra kaget.
“Iya. Ternyata anti ukhti Nisa, KOA SMA 16.” Jawab Fadil.
“Iya.” Jawab Zahra. “Ahlan wa Sahlan ya Akhi..(Selamat datang saudaraku..)” Lirihnya dalam hati.
* * *
Satu bulan kemudian, Zahra menerima dua proposal Lamaran yang diberikan kedua orangtuanya. Isinya adalah biodata dari dua orang yang ia kenal. Arif Rahman dan Muhammad Fadillah. Kedua pemuda itu mengajaknya menikah. Zahra berada dalam kebimbangan.
“Pilihlah yang terbaik untukmu nak, ibu selalu mendukungmu.” Nasehat ibu Zahra.
“Bismillah hirrohman nirrohim.. Insya Allah, Zahra memilih Muhammad Fadillah.” Jawabnya. “Ya Allah, jika aku jatuh cinta, berikanlah cintaku ini pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu. Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu. Dan berikanlah rinduku ini, pada seseorang yang merindukan syahid di jalan-mu.. Amin..” Doanya dalam hati.

-sdcahyaningsih