Rabu, 24 Januari 2018

Manis

Mama selalu bilang, "Jadi perempuan itu jangan jutek, harus manis, senyum, jangan nunduk aja, lah gimana mau ketemu jodohnya kalo nunduk terus??" . Aku cuma bales dengan ketawa ketiwi.

Tapi itu dulu kok. Sebelum kita sama-sama belajar dan aku kasih pengertian ke mama. Pelan-pelan. Seperti kisah kaos kaki dan jilbab menutupi dada. Semua harus disampaikan sebaik mungkin.

Jadi, banyak yang bilang kalo aku ini jutek, ga pernah senyum. Meski itu semua hanya mereka yang menilai aku sesaat dan sekelumit. Mereka yang sudah kenal baik dan lama denganku akan tahu dan paham siapa aku sebenarnya.

Aku bukannya ga bisa senyum, cuma ga mau aja (haha). Seriiuuus. Aku cuma ga mau menjadi fitnah bagi kaum adam. Entah yang dihatinya ada penyakit ataupun tidak. Karena seberat-berat fitnah bagi pria adalah kaum wanita. Meski banyak wanita yang ga sadar dengan tetap membiarkan lawan jenis memandang sepuas hati mereka karena sang wanita sendiri tidak menghargai dirinya. Aku cuma ingin menghargai diriku sendiri.

Jadii, menyadang 3 tahun berturut-turut selama SMA sebagai terjutek, yaa aku sih biasa aja. Selow.
Karena senyum termanisku itu, cuma buat kamu, iya kamu, jodoh yang Allah swt tetapkan untuk ku, pangeranku...

Senin, 22 Januari 2018

Mama dan Doa

"Don't underestimate your parent's dua for you. Their dua are so important that Allah recorded them in the Qur'an. Ask them to make dua for you. Right now" Nouman Ali khan

Sejak saat itu, setiap hari sebelum aku berangkat bekerja, aku selalu mencium tangan ibuku. Aku selalu berkata, "Ma, doain aku ya."
Ya, sejak saat itu.

Saat itu adalah hari pertama aku bekerja. Pekerjaan diluar zona nyamanku. Tempat bekerja dengan jarak yang tidak dekat dan waktu yang tidak sebentar. Terlebih saat aku aku bekerja sambil kuliah. Ya, aku bekerja untuk memenuhi biaya kuliahku sendiri, aku ingin mandiri.

Aku selalu merasa berat ketika akan berangkat bekerja. Aku selalu takut. Takut jika nanti datang terlambat. Takut jika nanti aku bisa membuat kesalahan pada pekerjaan ku. Takut mengecewakan atasanku. Dan takut takut yang lainnya.
Padahal ketika sampai disana sih biasa saja. Bekerja.

Maka pada hari itu, kucium tangan mama. Aku berkata, "Ma, doain aku ya." Kemudian hari berjalan lancar. Ringan rasanya melangkah. Berkah rasanya perjalanan. Begitu seterusnya, aku selalu meminta mama mendoakan ku. Doa yang tidak spesifik, ya doa saja. Doa diberikan kebaikan dan keberkahan untuk sepanjang hari aktivitas ku.

"Dan apabila mata ibumu sudah tertutup, maka hilanglah satu keberkatan disisi Allah, yaitu doa seorang ibu. "

Sekarang, tidak hanya saat akan berangkat bekerja aku mencium tangan mama dan meminta doa nya. Disaat aku sedang sedih, sedang merasa berat dan lelah dalam menjalani hidup, merasa putus asa akan hal yang belum aku dapatkan, secara random aku berkata, "Ma, doain aku ya." Tidak pernah spesifik. Dan mama hanya mengiyakan, sambil bercanda membuatku tertawa. Kadang dalam hatiku aku berbisik, "Ma, aku ingin menikah. Tapi jodohnya belum Allah kirim. Doain aku ya ma."

Ya, mama selalu menjadi segalanya bagiku. Doa dan ridho nya adalah nafasku.

"Jangan meremehkan kekuatan doa dari kedua orangtuamu. Doa mereka begitu sangat penting hingga Allah mencatatnya dalam Al Qur'an. Mintalah mereka untuk mendoakanmu. Sekarang juga." Nouman Ali khan

Kamis, 11 Januari 2018

Bunga Bermekaran Di Wajahmu

Seperti Ray ketika menatap rembulan. Setiap kali Ray memandangnya, ia selalu berterima kasih kepada Tuhan. Setiap kali ia menyimaknya, ia selalu merasa kuasa Tuhan menjejak setiap sudut bumi dimana cahaya rembulan menyentuhnya. Ray selalu jujur, tidak pernah berdusta saat menatap rembulan. Apa adanya.

Ray selalu merasa andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka diluar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan. Ia hanya yakin, bila tidak di kehidupan ini, suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih mempesona dibandingkan menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar indah.

Begitu pula Dewi. Setiap kali ia memandang bunga, ia selalu bahagia, bersyukur kepada Tuhan. Setiap kali ia menatapnya dalam, ia selalu merasa Tuhan begitu Kuasa Menciptakan sesuatu yang begitu indah dan sempurna di dunia ini. Dewi selalu bahagia, dan merasakan ada bagian dari Kebesaran Tuhan disana.

Dewi selalu yakin, meskipun tiap fase kehidupan yang ia jalani terasa berat, akan ada akhir indah yang menunggunya. Selama ia menjalani prosesnya dengan baik dan benar. Seperti bunga, menjalani prosesnya kemudian mekar dengan indah dan sempurna. Karena ada Tuhan yang Maha Mengaturnya dengan tepat dan sempurna. Suatu saat nanti, kau akan tersenyum dan bunga bermekaran di wajahmu..

Kamis, 28 Desember 2017

Draft

Assalamu'alaykum, mas, apa kabar?
Apa kamu suka membaca buku?
Beberapa bulan ini saya sering membeli buku. Buku yang tema nya tentang jodoh dan pernikahan. Baru beberapa bulan ini saya benar2 berani mengambil keputusan bahwa saya harus menyiapkan diri untuk menikah. Padahal sudah dari tahun 2016 saya mengikuti seminar pranikah. Tapi saat itu rasanya azzam ini belum terlalu kuat. Hanya asal saja bilang tahun 2017, kalau ditanya kapan akan menikah. Hanya sembarang menjawab di usia 25, saat ditanya kapan akan menikah. Saya sendiri tidak tahu apa arti dibalik tahun 2017 dan usia 25.
Momen pernikahan pertama kali yang saya datangi bersama teman2 liqo adalah ketika sma. Ketika murabbiah kedua saya (setelah regrouping kelompok) menikah. Dan bercerita bagaimana proses beliau menuju pernikahan. Beliau mengatakan beliau cukup terlambat mempelajari ilmu pernikahan. Kurang rasanya saat proses 3 bulan itu baru belajar ilmu pernikahan. Beliau menasehati kami bahwa pernikahan itu perlu persiapan.
Tapi sampai akhir 2016 pun saya belum serius mempersiapkannya. Saat itu mungkin saya masih menikmati bebasnya bekerja saja, setelah jenuh bekerja sambil kuliah. Baru kemudian di tahun 2017, sahabat terdekat saya menikah. Dari 4 orang sahabat sma, tersisa dua. Dari 5 orang sahabat di kampus, pun tersisa dua. Kemudian entah azzam ini menguat ataupun rasa iri yang muncul. Ingin segera menikah. Meskipun saya sendiri masih mencurigai apa sebenarnya motivasi saya ingin menikah di tahun ini.
Maka saya membeli buku2 ini. Sebagian saya pinjam. Saya baca. Kemudian saya kembali meluruskan niat saya, mempersiapkan sebaik-baiknya, memperbanyak doa dan memperbaiki amal.
Mas mau saya pinjamkan buku2 nya?
Setidaknya kalau kita berjodoh, kita sudah memiliki pemahaman yang sama, kalaupun tidak, dapat menjadi bekal untuk diri kita masing2 kedepannya..
Atau mas punya buku yang bisa saya pinjam untuk dibaca??

Kamis, 21 Desember 2017

Pandangan

Bagi orang lain mungkin bertemu dengan seseorang adalah hal yang menyenangkan. Tapi tidak bagiku. Bertemu denganmu sangat menyesakkan. Mengalihkan pandangan ini sangat menyulitkan. Menenangkan hati ini sangat menyedihkan. Kenapa? Karena pandangan pertama merupakan anugerah, sedangkan pandangan berikutnya adalah panah-panah setan..


Maka izinkan aku menundukkan pandangan..

Kamis, 26 Oktober 2017

WOMAN

It's about feeling of woman.

Perempuan hanya butuh pernyataan tegas.
Bukan perkataan manis, rayuan pulau gombal, janji tanpa ada realisasi.

Perempuan butuh kejujuran untuk kemaslahatan hatinya.
Disampaikan bahwa dirinyalah yang tercantik yang ada dimata engkau,  bahwa masakan nya tetaplah yang terlezat dari yang terlezat, bahwa kecintaan engkau bertambah setiap detik engkau melihatnya.

Perempuan hanya butuh diyakinkan.
Diyakinkan bahwa memang dirinyalah yang engkau pilih menjadi bidadari selamanya.

"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." Qs. 'Āli `Imrān :159

Because, It's about feeling of woman.

Rabu, 18 Oktober 2017

Perjanjian yang Kokoh

Selalu ada ibroh (pelajaran) yang dapat kita ambil dimanapun, kapanpun. Apalagi disebuah tempat bernama rumah sakit. Ketika sehat menjadi begitu berarti. Ketika sehat menjadi sebuah anugerah, harapan terindah.

Ada satu hal. Sesuatu yang selalu membuatku tersenyum diselimuti rasa haru. Ketika melihat sepasang suami istri begitu sabarnya saling mengasihi. Mengantar pasangannya sejak pagi, menemani satu demi satu proses hingga siang hari mengantri obat. Bukan muda lagi usia pernikahannya, tapi kasih sayangnya masih hangat terasa, kesabarannya masih terjaga. Bahkan dengan penyakit yang benar-benar menguji kesabaran. Demensia. Sang pasangan tetap sabar menggandengnya, atau mendorongnya dengan kursi roda, bahkan mendorong bed karena sang pasangan hanya dapat berbaring. Dan bukan hanya sekali, tetapi rutin berbulan-bulan.

Pernikahan merupakan perjanjian yang kokoh (Mitsaqan Ghaliza). Itu yang aku lihat dari mereka. Saling mengasihi disaat senang ataupun sedih. Dari muda hingga tua. Disaat sehat maupun sakit. Sakinah, mawadah, warahmah.

Subhanallah, aku belajar banyak dari mereka. Setiap hari. Belajar arti sabar, sayang, marah, pengorbanan. Cinta yang menjelma menjadi segalanya. Semoga Allah swt memberikan keberkahan untuk kita semua. Dan aku dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi hari demi hari..

Jumat, 01 September 2017

Pertanyaan

Naifnya diri ini karena berharap cukup satu kali saja untuk melakukan proses. Bertukar biodata, bertemu, lalu cocok kemudian lanjut ke jenjang berikutnya. Pernikahan. Sesederhana itu.

Nyatanya, aku pun butuh jatuh berkali kali untuk berada di posisi karir ini. Pekerjaan yang dicaci namun dicari. Gagal di tes pertama, Gagal di nilai kewarganegaraan, bahkan gagal di tahap akhir wawancara. Ya, itu proses. Pahit. Namun ketika berhasil akan terasa sangat manis.

Begitupun proses taaruf ini. Ah, aku selalu tidak mampu untuk tidak melibatkan perasaan. Dan dalam proses ini pun aku melibatkannya. Perasaan kecewa. Mengapa harus memulai jika belum ada kesiapan? Mengapa harus memulai jika tahu dalam waktu dekat belum siap untuk ke jenjang berikutnya? Mengapa harus memulai jika target menikah masih jauh di bulan sana? Pertanyaan yang aku sangkakan padanya.

Waktu berlalu. Kemudian aku menyadari. Bahwa pertanyaan itu bukanlah untuknya. Melainkan untukku sendiri. Aku yang meragu. Belum yakin saat memulai proses ini. Niat dan kesiapan. Aku mencurigai niatku sendiri akan kesiapan menikah. Apakah ini saat yang tepat untukku memulai proses? Bukan karena satu persatu sahabatku mulai menggenap? Apakah ini hanya euforia sesaat?

Ternyata pertanyaan itu bukan hanya untukmu. Melainkan juga aku.
Kamu yang sedang berada di padang arafah,
Bolehkan aku titip doa,
Ya Allah aku ingin menikah...

9 Dzulhijjah 1438 H