Jumat, 04 Mei 2018

Rasa


“Ketika ada rasa yang mulai bertunas, seharusnya saat itu juga dipagari dengan ma'rifatullah, dipancang dengan quwatusshillah billah. Agar tunas itu mekar,tumbuh kuat dan berakar nanti saja, pada waktu yang tepat, pada orang yang tepat...”

Kamukah orang itu?
Yang kupercayai sebagai tempat tunas ini mekar, tumbuh kuat dan berakar?

Kapankah waktu itu?
Apakah sesaat setelah tangan mu menjabat tangan ayah ku seraya akad itu terucap?

Maafkan diri ini bila tidak secara utuh dan matang menerapkan prinsip syariat. Ketika kakak mentor di SMA mengatakan bahwa pacaran itu haram dan ada banyak batas hubungan antara laki-laki dan perempuan, aku langsung mengambil sikap dengan berprinsip bahwa aku akan menjaga jarak dengan sosok bernama laki-laki dan menutup hatiku rapat-rapat. Tidak pernah aku bersikap lembut apalagi manis kepada mereka. Bukankah fitnah terbesar bagi laki-laki adalah kaum wanita? Maka pikirku, wanita memegang peran besar dalam terwujudnya fitnah tersebut. Jadi, tidak ada suara mendayu, wajah ramah, apalagi kedekatan secara fisik terhadap mereka. Tak elak aku menyandang predikat 3 tahun berturut-turut sebagai si jutek. Tak apalah, toh aku punya alasan atas sikapku. Menyimpan kelembutan dan senyum termanis ini hanya pada waktu yang tepat, orang yang tepat...

Tetapi kemudian aku tersadar. Saat aku merasa inilah waktunya membuka pintu hati yang sudah lama tertutup ini, aku kesulitan menemukan kuncinya. Dan pintu ini susah sekali untuk dibuka. Sikapku terlalu cuek terhadap dia -makhluk laki-laki- yang hanya sekedar mendekat kepadaku dan rasa canggung menyelimuti diriku bagaimana harus bersikap kepadanya.
Aku tidak tahu caranya!

Jadi, untukmu yang datang kepada ayahku, aku memohon pengertian mu terhadap diri ini yang masih belajar bagaimana bersikap kepada sosok yang masih asing bagi diri ini. Namun kau tak perlu meragu, karena aku akan seutuhnya mencintai mu karena Allah...

0 komentar:

Posting Komentar